Kontra Donor Sel Telur dan Embrio yang Perlu Anda Tahu
≡ Menu
Home » Infertilitas » Kontra Donor Sel Telur dan Embrio yang…

Kontra Donor Sel Telur dan Embrio yang Perlu Anda Tahu

Kehamilan dan kontra donor sel telur - via crnobelo.com

Kehamilan dan kontra donor sel telur – via crnobelo.com

Donor sel telur dan donor embrio merupakan salah satu teknologi perawatan kesuburan yang sangat kompleks. Selain prosedurnya yang kompleks, ada urusan legal dan memilih calon pendonor yang ketat. Di beberapa negara, prosedur ini dilarang. Lainnya lagi membolehkan dengan catatan pertanggungjawaban. Namun tahukah Anda jika ada kontra donor sel telur dan embrio yang perlu diketahui, khususnya untuk fisik? Mari kita simak 8 kontra donor sel telur dan embrio yang berhasil dihimpun oleh tim Aku Ingin Hamil berikut.

1. Dalam program bayi tabung (In Vitro Fertilisation), menggunakan telur donor lebih mahal biayanya. Apalagi jika dibandingkan dengan prosedur bayi tabung standar (menggunakan sel telur milik sendiri, tanpa donor)

2. Meskipun memiliki hubungan biologis dengan anak, penerima telur atau embrio donor harus menerima kalau ia bukan ibu genetiknya. Sejumlah keluarga penerima telur atau embrio donor, memilih terbuka pada anaknya di masa depan. Mereka memberi tahu tentang keberadaan genetik aslinya.

Tapi, tak semua ibu bisa seterbuka itu pada anaknya. Mereka tidak nyaman ketika harus melakukan pendekatan ke anak demi menjelaskan riwayat tersebut. Karenanya, melakukan konseling juga harus masuk ke dalam daftar prioritas. Dengan mencari konselor profesional, cara terbaik untuk mengatasi masalah ini dengan keluarga, bisa diputuskan.

3. Jika seorang wanita menggunakan telur donor dan ada lebih dari satu embrio yang ditanamkan ke rahim, peluang memiliki bayi kembar bisa sangat tinggi. Menurut data yang dikutip dari laman babycenter.com, sekitar 40% siklus perawatan dengan telur donor akan menghasilkan kehamilan ganda atau bayi kembar.

Banyak pasangan suami istri di dunia ini yang mengakui kehamilan tersebut sebagai anugerah. Kalau ditanya, siapa yang tidak akan senang begitu mendapat kabar hamil bayi kembar? Namun, kehamilan ganda bukannya tanpa resiko. Membawa banyak embrio dalam rahim dapat meningkatkan potensi keguguran dan komplikasi lainnya. Misalnya, persalinan prematur.

4. Kebanyakan klinik kesuburan di Amerika Serikat, tidak menawarkan layanan donor sel telur dan embrio untuk wanita di atas 55 tahun. Bahwasanya, tidak ada bukti yang cukup tentang keamanan prosedur ini, khususnya bagi wanita dengan usia yang bisa dibilang tak subur lagi itu. Pun juga pada bayinya. Selain alasan kurangnya bukti keamanan, alasan etis dan medis pun turut diperhitungkan mengingat lanjutnya usia wanita.

5. Ada banyak resiko untuk donor sel telur. Wanita yang mengambil gonadotropin sebagai salah satu tahap prosedurnya, kadang-kadang mengembangkan gejala ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS). Gejala ini terjadi ketika tubuh merespon obat kesuburan terlalu baik. Akibatnya, produksi sel telur juga terlalu banyak. Ovarium pun bengkak dan cairan menumpuk pada perut.

Dikutip dari laman babycenter.com, 10-20% wanita mengambil gonadotropin dan mengembangkan gejala ringan OHSS. Misalnya, penambahan berat badan secara tiba-tiba dan perut kembung. Dengan pantauan ketat dari dokter, gejala tersebut bisa sembuh dengan sendirinya.

Wanita dengan gejala OHSS yang lebih parah, kemungkinan akan dirawat di rumah sakit. Gejala itu seperti mual, muntah, dehidrasi, peningkatan berat badan yang cepat, pembekuan darah, gangguan ginjal, ovarium bengkok, atau cairan menumpuk di dada. Pada kasus yang sangat jarang, gejala kematian juga bisa terjadi.

6. Semua wanita dengan problem sulit hamil, pasti punya peningkatan resiko kehamilan ektopik (hamil di luar rahim). Resiko ini ada terlepas dari perkara bagaimana bayi dikandung dan dengan metode perawatan kesuburan apa yang dipakai.

Kehamilan ektopik terjadi saat embrio malah mengarah ke tuba falopi atau perut, bukannya ke rahim. Selanjutnya, embrio tertanam di sana dan terus berkembang. Jika ini dibiarkan, tuba falopi berpotensi mengalami pembengkakan dan mendesak untuk pecah. Karena itu, dokter akan menyarankan obat methotrexate atau pembedahan. Dengan begitu, embrio bisa diambil agar cedera serius bisa dicegah.

7. Bayi yang lahir lewat perawatan kesuburan berteknologi tinggi (seperti bayi tabung), memiliki kecenderungan lahir prematur. Jika tidak, bayi bisa lahir dengan berat badan yang kurang normal. Resiko lahir cacat juga mungkin terjadi. Ini juga bisa terjadi pada kasus perawatan kesuburan yang dibarengi donor sel telur atau embrio.

Sayangnya hingga saat ini, para ahli belum yakin tentang penyebab kasus di atas. Apakah ini karena penyebab masalah kesuburan (seperti usia) atau dari perawatan kesuburannya, belum diketahui dengen jelas dan pasti.

8. Karena melibatkan teknologi yang sangat kompleks dan rumit, tentunya donor sel telur dan embrio tidaklah berbiaya murah. Di Amerika Serikat, biaya perawatan kesuburan yang dibarengi donor sel telur dan embrio cukup bervariasi. Ini juga tergantung klinik yang disambangi. Ada yang perlu merogoh kocek sebesar 20.000 – 30.000 dolar untuk donor sel telur segar dan siklus bayi tabung. Biaya ini sudah termasuk ongkos kompensasi donor (biasanya sekitar 5.000 – 10.000 dolar). Per satu siklus bayi tabungnya sendiri memerlukan 12.400 dolar.

Berbeda dengan yang segar, biaya siklus donor sel telur yang beku lebih rendah lagi. Kira-kira 16.000 – 24.000 dolar. Sedangkan siklus donor embrio mencapai 5.000 – 9.000 dolar. Siklus donor memang berbiaya jauh lebih murah karena tidak memerlukan proses pembuahan di laboratorium lagi.

Jika ingin mencoba donor sel telur dan embrio di luar negeri, ada baiknya kontra donor sel telur dan embrio di atas diperhatikan. Selain punya pengaruh terhadap fisik dan emosi, tentu saja biaya prosedur dan legalnya pun tidak sedikit. Lalu, bagaimana komentar Anda terhadap kontra donor sel telur dan embrio tersebut?