Menjaga Hubungan dengan Suami Selama Rencana Kehamilan

Menjaga Hubungan dengan Suami Selama Rencana KehamilanMerencanakan kehamilan adalah suatu kegiatan yang gampang-gampang susah. Dibilang gampang, kenyataannya perlu waktu untuk segera hamil. Dibilang susah, ya enggak terlalu susah amat. Yang jelas, kehamilan itu adalah hasil usaha dan karunia Tuhan. Siapa yang berusaha keras, niscaya Tuhan akan memberikannya.

Soal waktu tunggu kehamilan, terkadang sering membuat susah juga. Pepatah yang mengatakan kalau menunggu itu ternyata membosankan ternyata ada betulnya. Anda dan suami lantas terjebak dalam suasana yang ikut jadi membosankan dan tanpa keceriaan karena momongan tak kunjung hadir. Lalu, bagaimana agar bisa menunggu kehamilan datang dengan hubungan yang senantiasa kuat? Simak lima tips berikut!

1. Saling mendukung dan melengkapilah dengan suami Anda

Pernikahan yang penuh cinta adalah kado terbaik untuk Anda, pasangan, serta calon bayi kelak. Hubungan pernikahan yang kuat bukanlah sekedar pondasi berkembangnya keluarga Anda. Ia juga akan menjadi model atau teladan bagi anak di masa depan. Jika keluarga bahagia, maka anak juga akan termotivasi untuk menciptakan masa depan yang harmonis bersama pasangannya saat dewasa. Jika yang terjadi adalah kekerasan dalam rumah tangga, bukan tidak mungkin si anak akan menganggap berlaku keras dan kasar adalah hal yang biasa dan bisa dimaklumi.

Seorang anak lahir dengan pengamatan yang jeli ke dunia. Dia akan mudah mengamati, menanyakan, dan mempelajari apapun yang ada di sekitarnya tanpa filter karena logikanya belum berjalan. Agar si anak nanti tidak telanjur melihat teladan yang kurang baik, mulailah belajar sebagai orang tua sejak dini. Meski sekarang belum dikaruniai seorang anak, pikirkan saja bahwa ada seorang bayi duduk di sekitar Anda. Ia akan melihat segala gerak-gerik Anda dan berpikir tentang apa yang sedang dilakukan oleh Anda dan suami. Karenanya, ciptakanlah hubungan yang baik antara Anda dan suami.

Saat ini, apakah Anda atau suami menaikkan volume atau nada suara saat sedang tidak sepakat satu sama lain? Apakah salah satu dari Anda merajuk saat tidak mendapatkan yang diharapkan? Lantas, apakah hubungan seperti ini yang diajarkan pada anak-anak? Tentu tidak, bukan? Jika ada sesuatu yang tidak sejalan, bicarakanlah secara baik-baik dengan pasangan. Dari perbincangan tentang ini, cobalah rumuskan komunikasi yang baik antara Anda dan pasangan yang bisa memperkuat hubungan dan menjadikan keluarga harmonis untuk si calon anak nanti.

Selain cara berkomunikasi, gaya hidup pun perlu dirubah. Untuk merencanakan kehamilan, Anda dan suami diharapkan meninggalkan gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya, hanya mengkonsumsi makanan bernutrisi, olahraga, dan meninggalkan rokok serta minuman keras/alkohol. Gaya hidup itu berfungsi agar tubuh Anda mencapai berat tubuh yang sehat dan memicu kesuburan sampai tingkat yang maksimal. Namun, bukannya lebih afdol jika gaya hidup sehat tersebut tetap diteruskan untuk selamanya? Selain aman untuk perencanaan kehamilan selanjutnya, tubuh Anda juga akan menjadi lebih kebal dari penyakit.

Bayangkan jika anak Anda sudah lahir, lalu suami Anda merokok di sekitar sang anak! Bukannya asapnya cukup berbahaya untuk anak seumuran dia? Ketika anak sudah mulai meninggalkan ASI dan bubur sebagai makanan sehari-harinya, Anda dan suami akan kompak menasehatinya untuk makan sayur dan buah. Jika Anda sendiri tidak menjalankan itu, bagaimana dia juga akan mengakrabi keduanya? Pikirkan contoh sederhana itu baik-baik.

Rumah adalah tempat di mana anak-anak mempelajari kebiasaan yang baik atau dianggap baik. Mulai dari sekarang, pertimbangkan dengan matang apapun yang hendak Anda pilih. Mulailah bekerja sama secara kompak dengan pasangan. Mintalah saling mengingatkan satu sama lain jika ada yang luput.

Perhatikan juga aspek-aspek lain yang pasti datang setelah si bayi lahir. Mulai dari pola mengasuh anak, tanggung jawab mengatur rumah, keuangan, dan profesi Anda. Namun jangan jadikan itu sebagai beban yang terlalu berat. Sebab stres tidak boleh datang dan mengganggu rencana kehamilan Anda.

2. Tetaplah berusaha keras dan senantiasa melakukan hubungan seksual

Syarat lain agar Anda dan suami segera memiliki momongan adalah dengan rajin berhubungan seksual. Kelihatannya, ini adalah syarat yang sangatlah mudah. Tapi tunggu dulu! Banyak pasangan yang telah mencobanya dan putus asa setelah mendapati kenyataan gagal mendapatkan kehamilan secara cepat. Bagi mereka, ini adalah rutinitas yang berujung sia-sia tanpa tahu apa penyebabnya.

Andai saja Anda dan suami dapat mengembalikan kembali romantisme seperti masa-masa baru berpacaran, pasti tidak akan ada rasa lelah akibat terus mencoba. Yang ada, Anda dan suami akan menjadikan ini sebagai rutinitas yang menyenangkan dan bisa dinikmati. Cobalah untuk menjalani bulan madu yang kedua kalinya. Pergilah ke sebuah lokasi tujuan wisata yang terbilang jauh dari domilisi dan dekat dengan alam. Rasakan sensasi menjadi anak muda dan berpacaran lagi. Rencanakan malam minggu rutin seperti di awal pertemuan Anda.

Setelah itu, Anda akan menjadi sepasang kekasih yang segar secara fisik dan psikis. Kemudian siap untuk menjalin hubungan seksual kembali. Tentunya, dengan semangat mendapatkan anak yang lebih tinggi lagi.

3. Mencari tahu fakta tentang kesuburan

Tahukah Anda bahwa usia dua puluhan merupakan usia dengan kesehatan paling sempurna, termasuk untuk memiliki anak? Ini karena di usia tersebut, Anda akan memiliki 25% kemungkinan hamil di setiap bulannya. Dengan berjalannya waktu, Anda akan menginjak usia tiga puluh tahunan. Mulai di usia inilah, tingkat kesuburan akan berkurang sekitar 10-15%. Tak mengherankan apabila kehamilan di usia ini pun bisa memakan waktu hingga satu tahun lamanya.

Dengan mengetahui fakta pada wanita tersebut, Anda dan suami bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum mencapai usia 30 tahunan. Anda yang telah berusia 30 tahun pun bisa segera tahu kapan waktunya untuk mendapatkan perawatan medis jika tak kunjung mendapatkan kehamilan.

Jika Anda dinyatakan tidak memiliki kesuburan dan harus menjalani proses bayi tabung, sadari pula konsekuensi finansial yang mungkin terjadi. Sebab, program bayi tabung tidaklah murah. Kesuksesannya pun tidak bisa 100% berhasil. Prosedur yang dijalankan pun, sering menguras emosi dan fisik. Bayangkan jika Anda tidak berhasil pada siklus pertama bayi tabung dan harus berhutang untuk membiayai siklus selanjutnya. Sedangkan itu, kehamilan juga tak datang lagi. Pasti Anda dan suami merasa sangat kesal, frustasi, sedih, dan merugi.

Jika semua fakta-fakta kesuburan di atas dapat Anda pahami sejak dini, tentunya Anda dapat menangkal resiko yang lebih buruk lagi. Perencanaan yang terbaik pun siap terjadi di usia yang terbilang sangat belia.

4. Jangan membuat asumsi apapun tentang apa yang harus dilakukan oleh pasangan

Membuat perencanaan dan tujuan agar segala kemungkinan (buruk maupun baik) bisa teratasi memanglah penting. Tapi, pastikan Anda dan suami tetap bisa bergerak fleksibel dan tidak terkungkung oleh peraturan rencana kehamilan itu sendiri. Jangan juga sampai terlalu melanggar.

Jangan juga membuat asumsi apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh sang suami. Bisa-bisa, dia menjadi stres dan tertekan sebelum sempat mewujudkan kehamilan. Lebih baik buatlah pertanyaan, biarkan dia menjawab, lalu bagikan sudut pandang Anda, dan ingatlah bahwa ada sebuah tujuan yang perlu diambil dan dijalani secara bersama-sama. Dengan kata lain, dua orang kini melebur menjadi menjadi satu pikiran.

5. Diskusi dan buat keputusan secara ringan

Di tengah tidak adanya kepastian memiliki anak, baik dengan jalan pembuahan alamiah atau program bayi tabung, sangat mungkin sekali terjadi keputusan secara sepihak. Ini bisa terjadi ketika Anda sudah merasa putus asa karena merasa segalanya cuma sia-sia. Keadaan inilah yang seringkali malah merusak hubungan Anda dan suami sebagai pasangan suami istri.

Sesedih apapun keadaan Anda sekarang, jangan pernah tinggalkan diskusi dan komunikasi dengan pasangan. Bagaimana pun, memiliki anak adalah persoalan bersama. Anda tidak mungkin memiliki anak hanya dengan sel telur Anda sendiri. Begitu pun pria, tidak bisa memiliki buah hati hanya dengan spermanya saja.

Jika ada keputusan yang perlu dibicarakan secara serius, carilah waktu tenang dan santai. Misalnya, di pagi hari selama sepuluh atau dua puluh menit saat olahraga pagi, bangun tidur, atau sarapan. Bisa juga saat sebelum tidur. Percayalah jika ini akan menghangatkan hubungan dan mempererat hubungan batin Anda hingga tua nanti!

Kini, Anda sudah tahu bagaimana caranya agar hubungan tetap mesra dan erat selama merencanakan kehamilan. Dari semua itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa komunikasi yang baik, persiapan matang, dan tidak menyalahkan satu sama lain adalah komponen sempurna demi langgengnya pernikahan.

Lalu, sudahkah Anda dan suami berkomunikasi hari ini? Tetap semangat, ya!

Obat kesuburan terbaik di dunia AGAR CEPAT HAMIL secara alami. Solusi Program Hamil Sukses! » BELI DI SINI «