5 Pertanyaan yang Harus Mantap Anda Jawab Sebelum Memiliki Anak

5 Pertanyaan yang Harus Mantap Anda Jawab Sebelum Memiliki Anak“Bagaimana kalau kita memiliki bayi?” Pertanyaan ini pasti sering terjadi di antara pasangan suami istri muda. Memang, pertanyaan ini sah-sah saja dilontarkan. Setiap pasangan suami istri pasti ingin memiliki keturunan agar menambah kebahagiaan dan rezeki dalam hidupnya. Belum lagi menurut pandangan agama, menikah dan juga memiliki anak dianjurkan untuk semakin menyempurnakan iman. Dengan memiliki anak pula, seorang suami melatih jiwa kepemimpinannya sebagai kepala keluarga. Seorang ibu pun semakin melatih jiwa keibuannya.

Atas dasar tersebut, memiliki anak sebaiknya memang jangan ditunda-tunda lagi. Tapi, Anda dan suami sebaiknya mengetahui terlebih dahulu pertanyaan apa dulu yang perlu disepakati sebelum memiliki anak. Bukan bermaksud menakut-nakuti, namun ada baiknya Anda melakukan langkah persiapan demi masa depan buah hati Anda. Lantas, Anda tak perlu kocar-kacir lagi menghadapi itu semua dalam tahun-tahun mendatang.

Jika 5 Pertanyaan Ini Sudah Mantap Terjawab, Memiliki Momongan Sudah Tentu Layak Anda Rencanakan

1. Membicarakan masalah keuangan bukan sekedar kaya atau tak mampu. Sudah amankah finansial Anda dan suami karena memiliki momongan bukan sekedar perkara membeli susu?

Poin perdana ini barangkali sudah tidak menjadi rahasia lagi. Bahkan sebagian orang tua langsung memikirkan perihal ini ketika ingin memiliki atau menambah momongan. Ya, memang memiliki momongan menuntut Anda untuk memiliki kondisi keuangan yang cukup. Bisa dibayangkan bahwa begitu Anda hamil, Anda akan membeli susu khusus ibu hamil dan makanan bernutrisi. Seiring dengan semakin besarnya usia kandungan, Anda juga perlu membeli pakaian khusus ibu hamil yang belum tentu murah harganya. Biaya kontrol dan USG kandungan belum dihitung, masih ada biaya untuk keperluan bayi lainnya. Misalnya baju bayi, box bayi, alat pompa ASI, dan macam-macam lagi.

Membayangkan itu, apakah Anda dan suami sudah benar-benar siap lahir dan batin menerimanya nanti? Jika memang iya, cobalah beberapa tips-tips keuangan sederhana yang bisa Anda pelajari dari orang tua atau mertua Anda. Mulailah memotong pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya hanya gaya hidup. Anda sudah dewasa dan sudah seharusnya mampu membedakan mana yang kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Apalagi bayi Anda nanti pasti akan tumbuh dan memerlukan biaya pendidikan yang tentu tidak sedikit, setidaknya hingga ia berusia 20 tahunan.

Tak ada salahnya juga untuk membuat tabungan tersendiri untuk pembiayaan persalinan nanti. Meskipun Anda sudah benar-benar kaya dan sejahtera, jika Anda tidak memiliki pola manajemen keuangan yang teratur, maka kekayaan Anda belum tentu bisa menjadi jaminan.

2. Sebelumnya Anda bisa pergi ke mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Namun setelah bayi lahir, maukah lebih bertanggung jawab menggunakan waktu sedikit saja?

Selain menuntut jeli soal keuangan, memiliki momongan juga sangat menuntut tanggung jawab. Di masa lalu, Anda boleh saja menjadi pribadi yang bebas, senang bermalas-malasan, suka menghabiskan waktu di luar rumah, cuek, dan sebagainya. Tapi ingatlah lagi bahwa Anda kini telah menikah dan berencana menjadi ayah! Tentu saja Anda akan dituntut lebih bertanggung jawab atas apapun pilihan hidup Anda. Anda tak boleh lagi bermalas-malasan, tidak boleh egois dan memikirkan diri sendiri saja karena ada pasangan dan buah hati yang menyayangi Anda, tahu melindungi dan mengayomi keluarga, serta paham batasan waktu karena ada keluarga kecil yang menunggu perhatian dan kasih sayang Anda.

Jika Anda memang belum siap menerima itu semua, lebih baik bersiaplah dari sekarang! Anda tentunya menginginkan yang terbaik untuk buah hati Anda nanti bukan?

3. Bekerja memang perlu untuk menyambung biaya hidup. Tapi bila bayi sudah hadir, mengurusnya sambil bekerja masihkah sanggup?

Ya. Pekerjaan kerapkali menjadi masalah begitu merencanakan kehamilan. Terkadang, ada sejumlah orang yang memiliki jam kerja selama 8 jam sehari namun ritmenya menuntut ia agar dapat bekerja cepat dan melebihi jam kerja. Ada pula yang diharuskan sering lembur hingga jarang pulang ke rumah. Ada pula yang kerja berbeda pulau atau kota. Sebagian lagi, bekerja pada perusahaan yang menuntut penampilan sempurna dan bahkan tidak menikah.

Begitulah dinamika kehidupan manusia. Tapi Anda tetap harus menghadapi itu semua. Bila Anda tetap ingin bekerja, sanggupkah Anda untuk tetap membagi waktu untuk si buah hati secara konsisten? Bila Anda memiliki cukup uang dan mempercayakan bayi Anda pada pengasuh, bagaimana dengan kondisi psikologis anak nantinya? Apakah Anda tetap menyediakan waktu untuk mengontrol anak Anda di bawah asuhan pengasuh? Atau bersediakah Anda keluar dari pekerjaan yang tidak memperbolehkan Anda memiliki anak?

Tak jarang beberapa wanita karir memilih untuk meninggalkan pekerjaan demi mengasuh buah hatinya dan memastikan si buah hati tidak kekurangan kasih sayang. Di satu sisi, Anda kondisi finansial yang akan dikorbankan pula bila hal ini terjadi. Semuanya kembali ke tangan Anda.

4. Anda cukup menyediakan box agar bayi tidur pulas. Tapi seiring tumbuhnya buah hati, terpikirkah untuk memberi ruang yang lebih nyaman dan luas?

Saat bayi Anda baru lahir nanti, Anda mungkin tidak terlalu pikir pusing dengan tempat tinggal. Toh, si bayi bisa tidur bersama orang tua atau tinggal dibelikan box bayi. Namun seiring perkembangannya, si bayi bisa duduk, merangkak, kemudian berjalan. Mereka bisa saja tiba-tiba berjalan-jalan ke kolong kasur, ke tepi tangga, atau ke balkon. Oleh karena itu, barangkali Anda perlu juga memperhatikan tingkat keamanan dan keselamatan lingkungan tempat si kecil berada. Ketika ia semakin besar nanti, mungkin ia menginginkan tempat tidur sendiri. Ia perlu kamar sendiri. Ia perlu meja belajar, tempat bermain, dan aneka perabot lainnya.

Apapun itu, yang penting Anda memastikan bahwa buah hati tinggal di tempat yang sehat, nyaman, aman, dan tidak membahayakan dirinya.

5. Situasi dan kondisi setiap keluarga mungkin saja berbeda-beda. Dengan kelahiran si kecil, siapkah keluarga Anda semakin berdinamika?

Dengan adanya anggota keluarga baru, tentu saja akan ada banyak hal yang mungkin berubah. Misalnya saja, pada keluarga yang sudah memiliki anak dan ingin menambah momongan lagi. Di satu sisi, saudaranya mungkin akan menerima itu. Ia berjanji akan membantu merawat si buah hati jika sudah lahir. Namun belum tentu saudara yang lainnya lagi bisa berkata demikian. Pun ketika si bayi sudah lahir, bisa saja muncul kecemburuan antara saudara-saudara yang lebih tua pada si bayi baru. Dinamika bisa jauh menjadi pelik lagi ketika Anda misalnya telah bercerai dan menikah dengan orang yang sudah memiliki anak sebelumnya.

Anda dapat berpikir dari sudut pandang mereka dan bagaimana mereka akan bereaksi nantinya. Temukan cara bagaimana mengatasinya dan persiapkan mereka terhadap perubahan yang mungkin terjadi nanti, agar mereka menikmati rasanya memiliki saudara baru.

Demikianlah 5 pertanyaan yang sudah semestinya bisa Anda dan pasangan Anda mantapkan secara lahir dan bathin. Ketika Anda sudah mampu dan mantap menjawab keseluruhannya, berarti Anda sudah benar-benar memiliki perencanaan matang atas keluarga Anda nanti. Khususnya untuk masa depan dan kebaikan si bayi. Namun jika masih saja ada yang menjadi keraguan, rundingkan dan diskusikanlah ini dengan pasangan Anda. Masih ada waktu kok untuk merencanakan dan mempersiapkan semua sebelum atau sambil Anda merencanakan kehamilan. Selamat mencoba dan semoga segera mendapatkan momongan!