Penyebab Infertilitas Wanita dan Cara Menentukannya

Penyebab infertilitas wanita - via phawellness.com

Penyebab infertilitas wanita – via phawellness.com

Infertilitas atau ketidaksuburan adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah satu tahun mencoba berhubungan tanpa kondom atau alat kontrasepsi apapun. Ini berlaku bagi pasangan, khususnya wanita yang usianya di bawah 35 tahun. Sedangkan untuk wanita berusia 35 tahun dan di atasnya, infertilitas terjadi jika mencoba berhubungan selama enam bulan tanpa kondom dan alat kontrasepsi. Penyebab infertilitas sendiri bermacam-macam.

Di negara Inggris, satu dari tujuh pasangan terkena infertilitas. Kasus ini terjadi baik pada pria maupun wanita. Artinya, tak hanya wanita saja yang bisa infertil. Pria pun berpotensi mengalami infertilitas. Dilansir dari situs webmd.boots.com, satu per tiga diagnosis infertilitas terjadi pada pria. Selain itu, terjadi pada keduanya dan juga unexplained infertility (infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya).

Bagaimana usia mempengaruhi kesuburan?

Kemungkinan infertil semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Wanita sendiri lahir dengan jumlah sel telur (oosit) yang terbatas. Setelahnya, mereka tidak pernah lagi memproduksi sel telur, melainkan hanya mematangkan satu demi per satu stok sel telur yang dipunyai. Seiring tahun reproduksi berjalan, jumlah dan kualitas sel telur pun semakin berkurang.

Peluang mengandung semakin kecil saat usia wanita menua. Penurunan peluang semakin besar lagi setelah usia wanita di atas 35 tahun. Kualitas sel telur yang dilepaskan ovarium per bulannya pun, semakin menurun.

Apa penyebab infertilitas wanita?

1. Rusaknya tuba falopi

Tuba falopi berfungsi untuk membawa sel telur dari ovarium ke rahim. Jika tuba falopi rusak, proses bertemunya sel telur dan sperma juga semakin sulit. Riwayat medis berupa infeksi panggul berulang, endometriosis, dan sejumlah operasi panggul bisa menyebabkan luka atau jaringan parut dan berujung pada kerusakan tuba falopi.

2. Masalah hormon

Beberapa wanita mempunyai masalah dengan ovulasi. Perubahan hormonal yang sering terjadi pada wanita, kerapkali dikait-kaitkan dengan pelepasan sel telur dari ovarium. Di samping itu, ia dikaitkan pula dengan penebalan endometrium (lapisan rahim) dalam persiapan pembuahan. Sayangnya, keduanya belum tentu berlangsung mulus.

Namun, masalah tersebut dapat dideteksi dengan sejumlah alat. Alat tersebut akan mendeteksi kadar hormon. Jika Anda menemui hal yang ganjil, maka dapat segera ditindaklanjuti. Alat tersebut adalah grafik suhu basal tubuh, alat prediksi ovulasi, dan tes darah untuk deteksi kadar hormon.

3. Masalah serviks

Sekelompok kecil wanita berpotensi memiliki kondisi serviks, di mana sperma tidak bisa melewati saluran serviks dengan leluasa. Penyebab hal ini adalah produksi lendir serviks atau keputihan yang abnormal. Jika bukan karena itu, kemungkinan karena adanya riwayat prosedur bedah serviks sebelumnya. Jika hal terakhir yang terjadi, inseminasi intrauterin adalah solusi untuk mencapai kehamilan Anda.

4. Unexplained infertility (infertilitas yang tidak diketahui dan tidak bisa dijelaskan penyebabnya)

Meski terdengar aneh, tapi kasus ini terjadi pada satu dari empat pasangan di dunia. Kasus ini bisa dinamakan unexplained infertility karena penyebabnya tidak bisa ditentukan dari metode-metode medis yang selama ini umum dijalankan.

Bagaimana penyebab infertilitas ditentukan?

Jika infertilitas diduga terjadi pada pria atau suami, analisis semen adalah langkah awal yang akan dilakukan. Tes ini mampu mengevaluasi jumlah dan kesehatan sperma. Tes darah juga mungkin dilakukan agar kadar testosteron dan hormon pria lainnya bisa diuji.

Beda pada pria, beda pula pada wanita. Jika infertilitas diduga terjadi pada wanita, dokter akan menyusun serangkaian tes. Tes tersebut meliputi tes darah dan scan USG. Tes darah ditujukan untuk menguji kadar hormon, sedangkan scan USG digunakan untuk melihat kondisi rahim dan ovarium.

Kemudian ada dua macam tes yang mungkin dilakukan untuk mendeteksi adanya adhesi panggul dan obstruksi tuba falopi. Mereka adalah tes hysterosalpingography (HSG) dan laparoskopi. Prosedur HSG melibatkan serangkaian sinar X-ray yang diambil dari organ reproduksi. Mulanya, sebuah cairan berwarna disuntikkan ke leher rahim dan dibiarkan mengalir ke tuba falopi.

Lalu, bagian perut akan disinari X-ray khususnya di bagian tuba falopi berada. Cairan yang disuntikkan tadi akan mengungkapkan apakah ada sumbatan di tuba falopi atau tidak. Jika tidak ada, cairan tersebut tentunya bebas mengalir. Namun jika tuba falopi tersumbat, cairan akan berhenti pada titik tertentu.

Sedangkan prosedur laparoskopi menggunakan sebuah alat bernama laparoskop. Alat ini merupakan selang tipis dengan kamera fiber optik. Ia akan dimasukkan ke dalam perut lewat sayatan kecil di dekat pusar. Dengan ini, dokter melihat kondisi permukaan rahim, ovarium, dan tuba falopi. Seandainya ada pertumbuhan yang abnormal seperti endometriosis, dokter dapat mendeteksinya.

Calon ibu, sekarang sudah setahap lebih paham dengan penyebab infertilitas wanita bukan? Jika Anda berusia di bawah 35 tahun, sudah mencoba hamil selama tahun tanpa kondom dan pelindung lainnya, segera periksakan diri. Deteksi yang lebih cepat akan menghindarkan Anda dari risiko infertilitas yang lebih gawat.